Senin, 09 Februari 2009

PENGUKURAN DAN PENYEDERHANAAN ARUS KERJA KANTOR

Contoh cara mengukur salah satu pegawaian di kantor seperti sekretaris atau receptionis:
•Sekretaris
Cara mengukur pegawaian sekretaris, yaitu dilihat dari standar kerja yang telah ditetapkan misalnya standar dalam pengetikan harus mencapai tingkat akurasi minimal 98% serta kecepatan standar yang telah ditentukan. Pengukuran tersebut dapat diukur dengan menggunakan stopwatch dan melalui perhitungan tertentu.
•Receptionist
Cara mengukur kerja receptionist dapat dilihat dari buku tamu, apakah ia sudah melayani beberapa tamu yang datang ke perusahaan atau tidak. Di buku tamu dapat dilihat apakah tamu tersebut mengisi atau terdaftar dalam buku tamu atau tidak. Didalam buku tamu tersebut dapat dijadikan sebagai alat bukti pengukuran kinerja kerja receptionist tersebut. Selain itu dapat dilihat juga melalui penangan telepon oleh receptionist tersebut.

2.Contoh dan metode yang digunakan dalam menyederhanakan arus kerja.
Misalnya pembuatan surat pengantar Praktik Kerja Lapangan (PKL) di jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung (POLBAN). Dalam pembuatan surat pengantar PKL, mahasiswa melakukan hal tersebut sendiri tanpa mempekerjakan pegawai staf administrasi. Dalam pengerjaannya mahasiswa dituntut untuk dapat melakukannya dan sebelum disetujui (ditandatangani) terlebih dahulu surat pengantar PKL mahasiswa diperiksa. Hal ini dapat meringankan pekerjaan pegawai staf administrasi dalam melakukan pekerjaannya.

3.Pola pembagian kerja yang paling banyak digunakan di perusahaan adalah pola gabungan karena dalam perusahaan terdapat beberapa kegiatan yang hasil kerja seseorang akan dilanjutkan oleh pegawai lainnya dan adanya pembagian pegawaian dari awal sampai selesai dikerjakan oleh satu orang pegawai. Hal tersebut terjadi karena dalam suatu perusahaan tidak hanya melakukan satu aktivitas saja, akan tetapi ada juga aktivitas dalam penjualan barang, pengonsepan surat, pengetikan surat, dan aktivitas lainnya. Misalnya di perusahaan A yaitu agen yang memproduksi suatu barang kebutuhan kantor, maka aktivitas di perusahaan tersebut ada penjualan barang terhadap konsumen (suatu perusahaan) atau toserba yang membutuhkan barang kebutuhan kantor dan adanya aktivitas pengonsepan dan pengetikan surat untuk memesan barang kebutuhan kantor pada produsen perusahaan A tersebut.

4.Ada 7 cara untuk mengatasi fluktuasi pegawaian:
a)Mobile Units (unit-unit bergerak)
Perusahaan membentuk dan mendata orang-orang yang sewaktu-waktu dapat membantu unit lainnya bila unit lain tersebut dalam periode tertentu memiliki beban kerja yang tinggi. Kumpulan orang-orang tersebut dibentuk dalam satu tim yang dapat bergerak (dipindah-pindah) untuk membantu unit lain bila diperlukan. Dalam kondisi normal tim ini tetap bekerja di unit masing-masing. Tentu saja anggota tim tersebut memiliki kemampuan lebih dibandingkan pegawai lainnya. Contohnya di POLBAN pada saat adanya ujian saringan mahasiswa baru, dibentuk suatu tim untuk mengawasi calon mahasiswa baru POLBAN dalam melakukan ujian saringan mahasiswa, tim tersebut sebenarnya memiliki pekerjaan normal di unitnya masing-masing yaitu misalnya sebagai pengajar atau dosen.

b)Sentralisasi Kegiatan Kantor
Kegiatan kantor disentralisasi dengan cara adanya unit pengetikan, penggandaan, filing, dan seterusnya. Sentralisasi ini akan menciptakan spesialisasi pegawaian, efek dari spesialisasi timbulnya kecakapan dan kecepatan pegawai bekerja. Dengan demikian sentralisasi kegiatan kantor akan dapat membantu melenyapkan fluktuasi beban kerja kantor. Contohnya di POLBAN terdapat unit pegawai yang khusus mengerjakan pekerjaan tertentu, misalnya di administrasi ada juru ketik.

c)Cyling (Penebaran Menurut Waktu)
Pegawaian kantor disebar sesuai waktu, baik jam maupun hari. Sebagai contohnya konsumen yang berdomisili di wilayah A diberi kesempatan untuk melakukan pembayaran listrik dan air dari tanggal 1-5, sementara konsumen yang berdomisili di wilayah B kesempatan melakukan pembayaran listrik dan air dari tanggal 6-10, begitu pula seterusnya sesuai penanggalan dalam satu bulan.

d)Back Log
Sistem ini membagi pegawai ke dalam kriteria, yaitu urgent (penting), segera, dan biasa, sebagai alat bantu dibuat daftar pegawaian yang harus diselesaikan lengkap dengan kriterianya pada sebuah papan tulis atau kertas, pegawaian yang urgent merupakan prioritas utama diselesaikan, berikutnya pegawaian yang bersifat “segera” dan “biasa”. Demikian seterusnya sehingga puncak-puncak pegawaian yang penting dapat ditangani lebih awal. Contohnya rapat ketua jurusan di POLBAN.

e)Lembur
Lembur atau meminta pegawai untuk mengerjakan pegawaian diluar jam normal, cara ini tidak terlalu memuaskan untuk mengatasi fluktuasi beban kerja. Hal ini disebabkan akan meningkatkan kelelahan pegawai juga akan menambah biaya perusahaan untuk membayar lembur pegawai. Contohnya di suatu perusahaan memiliki pekerjaan yang menumpuk karena akan tutup buku akhir tahun maka diadakan lembur sebagai kerja tambahan agar dapat terselesaikan pekerjaan tersebut.

f)Partimer
Cara ini cukup flexibel, tetapi menambah biaya perusahaan untuk membayar tenaga kerja yang didatangkan dari luar perusahaan. Contohnya partime yang dilakukan di Yomart, mcD, dll.

g)Scheduling
Adalah menjadwalkan kegiatan pegawaian tentang penentuan waktu urutan pegawaian, kapan dimulai dan kapan berakhir.

5.Usaha yang perlu dilakukan untuk meningkatkan produktivitas kerja pegawai kantor di kampus.
Dengan cara job rotation, job simplification, job sharing, job security, dan employee participation.
LOKASI & LAYOUT KANTOR
1. Dalam pemilihan lokasi kantor, terdapat beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli. Menurut Terry (Dalam Gie, 2000) faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih lokasi kantor adalah:
• Corak gedung, termasuk wujud gedung, ukurannya, reputasi,usia gedung, pelayanan yang tersedia.
• Fasilitas gedung, yaitu fasilitas-fasilitas yang membuat gedung menjadi lebih baik, seperti AC, listrik, tempat parkir, jalan keluar, dll.
• Dekatnya kantor dengan perusahaan. Contohnya hubungan para langganan, fasilitas pengangkutan, pusat pertokoan, hotel, kantor pos, dan lain-lain.
• Biaya. Semua faktor yang menimbulkan biaya, tetapi harus dipertimbangkan biaya yang paling minimal.
• Stabilitas penyewa. Bila kantor disewa perlu dipertimbangkan stabilitas penyewaannya (lama penyewaan). Perpindahan kantor yang sering dilakukan akan berdampak negatif, terutama pada perusahaan yang sudah besar.
• Flexiblilitas ruangan. Meliputi ruangan yang memungkinkan pengaturan yang cocok untuk bermacam-macam bagian kantor, ukuran, design yang cocok untuk tempat peralatan, mesin-mesin. Disini perlu diperhatikan bisa tidaknya dilakukan perubahan-perubahan terhadap ruangan itu sendiri.
• Penerangan dan ventilasi. Tiap ruangan diusahakan mendapatkan penerangan alam, ventilasi dan sirkulasi udara yang cukup.
Bebas dari kotoran dan suara gaduh. Fokusnya adalah kebersihan udara, lingkungan dan suara gaduh, karena ini akan dapat mengganggu pekerjaan kantor.

Sementara itu Prajudi (1982) dalam memilih lokasi kantor menyatakan faktor yang perlu diperhatikan antara lain faktor:
1. Lingkungan tetangga
2. Dekatnya dengan kantor bagian lain
3. Harga atau sewa ruangan
4. Dekatnya dengan pasar tenaga kerja
5. Jalan keluar/masuk karyawan (lalu lintas antar pegawai)
6. Keamanan

Menurut Quible (1996) menyatakan ada 3 faktor perlu dipertimbangkan menentukan lokasi kantor, antara lain:

1. Faktor Keuangan
Termasuk disini adalah nilai secara ekonomis, apakah disewa, dibeli, leasing dengan kelebihan serta kekurangan masing-masing pilihan.

2.Faktor Operasional
Kemudahan operasi kegiatan perusahaan/organisasi, kemudahan berhubungan dengan konsumen, produsen, akses dan lain sebagainya.

3.Faktor Karyawan
Berhubungan dengan ketersediaan tenaga kerja skill dan unskill, tempat tinggal karyawan, mobilitas dan lain-lain.

Sedangkan Moekijat (1989) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan lokasi kantor sbb:

1.Letak, meliputi dekatnya dengan fasilitas transportasi, fasilitas bank, kantor pos, rumah makan, pasar, para pelanggan dan sebagainya.

2.Kelayakan, meliputi ukuran luas lantai untuk sekarang dan perubahan atau perkembangan di masa yang akan datang.

3.Pertimbangan keuangan, meliputi biaya modal dan biaya pemeliharaan serta biaya penggantian gedung –gedung lama.

4.Fisik, meliputi alat untuk naik turun digedung bertingkat, alat pemanas, pendingin ruangan, penerangan dan sebagainya.

Sementara itu Saphier (1987) menulis ada tiga faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan lokasi kantor, yaitu:

1.Kualitas gedung, termasuk didalamnya pendingin gedung/pemanas, ventilasi, tangga/lift, air, keersihan dan faktor-faktor lain yang bisa mempengaruhi image organisasi/perusahan.

2.Dekat dengan pusat industri/bisnis. Dikota-kota besar kantor-kantor dipusatkan di suatu daerah yang dekat aksesnya dengan pusat-pusat industri. Hal ini akan sangat membantu dan memudahkan konsumen melakukan transaksi atau berhubungan dengan perusahaan/organisasi yang bersangkutan.

3.Citra Lingkungan. Gedung dan kantor yang terletak pada tempat (lingkungan) dengan reputasi baik akan memberikan suatu keuntungan tersendiri bagi perusahaan/organisasi yang bersangkutan, karena dapat pula meningkatkan image perusahaan/organisasi tersebut.

Selain itu Saphier menambahkan bahwa :
1. tujuan perusahaan, nilai aestetic, fasilitas dan biaya menjadi faktor pendukung lainnya.

2.Keamanan dalam memilih kantor sangat penting dan merupakan hal yang perlu diperhatikan. Mengapa demikian, dikarenakan kantor bukan lagi hanya sekedar tempat berkumpulnya orang-orang yang melakukan sebuah pekerjaan dan aktivitas tetapi melainkan tempat dimana dokumen-dokumen penting perusahaan/organisasi disimpan, dirawat, ataupun dimusnahkan. Selain itu, kantor juga sudah harus dapat memenuhi segala bentuk kenyamanan untuk para pegawainya. Hal penting yang juga tidak boleh terlewatkan adalah lokasi kantor yang aman dari segala bentuk kejahatan/kriminal. Karena hal tersebut dapat saja mengancam kehidupan sosial para pegawai ataupun dokumen-dokumen penting perusahaan/organisasi. Maka dari itu, keamanan dalam memilih kantor sangat penting.

3.Dalam menentukan lokasi kantor, saya akan menggunakan metode gabungan antara Metode Penilaian dengan Metode Perbandingan Biaya. Mengapa demikian, karena Metode Penilaian merupakan metode dimana semua faktor yang dianggap penting diberi bobot nilai, total nilai 100. Kemudian masing-masing lokasi dan gedung yang akan dijadikan kantor dinilai dan dibandingkan. Lokasi dan gedung yang mendapat nilai terbesar menjadi pilihan utama, disinilah organisasi/perusahaan berkantor. Sedangkan Metode Perbandingan Biaya yaitu dengan membandingkan biaya-biaya yang akan dikeluarkan nantinya setelah gedung tersebut ditempati. Macam biaya yang akan dikeluarkan nantinya tergantung pada jenis usaha yang dilakukan. Biaya tersebut dapat dikelompokkan atas:
•Material cost (direct, indirect)
•Labor cost (direct, indirect)
•Overhead cost

Metode ini menggunakan peramalan biaya sebagai faktor penentunya. Kemudian masing-masing lokasi dan gedung kantor dibandingkan, kantor yang memiliki biaya paling kecil, disanalah organisasi/perusahaan berkantor.
Maka dari itu, Metode Penilaian dan Metode Perbandingan Biaya akan saling menutupi kekurangan masing-masing. Jika digunakan Metode Penilaian, ternyata gedung A berbobot nilai paling tinggi maka disanalah perusahaan/organisasi akan berkantor. Tetapi jika ternyata setelah digunakan Metode Perbandingan Biaya, gedung A adalah kantor yang memakan banyak biaya, maka perusahaan/organisasi perlu memikirkan kembali mengenai hal ini. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi hal tersebut lebih baik digunakan metode gabungan yaitu antara Metode Penilaian dengan Metode Perbandingan Biaya.

4.Kantor lanscape merupakan perpaduan dari kantor terbuka dengan tertutup. Ia berusaha mengurangi kelemahan yang terdapat pada kantor terbuka dengan kantor tertutup. Oleh karena itu semua keunggulan pada kantor tertutup dan terbuka ada pada bentuk kantor landscape. Namun didalam kantor lanscape penyusunan meja kerja tidak dilakukan secara garis lurus, tetapi meja disusun secara individual atau kelompok kerja, dengan sudut yang berbeda satu dengan lainnya. Masing-masing pegawai dikelompokkan atas fungsi dan tugasnya. Dengan demikian didalam kantor lanscape ini sebahagian pegawai bekerja pada ruang yang terbuka dan sebahagian lagi bekerja pada ruang-ruang yang diberi sekat setinggi 75cm – 100cm, namun masih dapat diamati dari tempat yang cukup jauh. Maka kantor lanscape ini cukup baik digunakan didalam penataan ruang kantor karena keunggulan-keunggulan yang didapat dari penataan ruang kantor ini sangat baik dibanding kantor terbuka atau kantor tertutup. Kantor lanscape ini juga mempunyai ciri-ciri yang unik didalam sebuah kantor yakni salah satunya adalah terdapat tumbuh-tumbuhan dalam ruang diantar bagian. Hal ini akan semakin menambah kenyaman bagi karyawan maupun tamu yang mengunjungi kantor lanscape tersebut.

5.Hubungan antara cahaya, warna, suara, dan udara dengan lay out terbuka adalah:
bila cahaya pada lay out terbuka lebih baik dikarenakan cahaya yang berpijar langsung masuk menyinari ruangan kantor tanpa ada bayangan yang diakibatkan oleh sekat-sekat. Sehingga intensitas cahaya yang dipancarkan maksimum karena sinar cahaya langsung menerangi ruangan tanpa menimbulkan bayangan yang disebabkan oleh sekat-sekat.
Bila mengenai warna pada lay out terbuka, warna dapat merangsang emosi dan otak manusia. Warna yang tepat untuk dekorasi dan ruang kerja akan menimbulkan kenyamanan serta peningkatan produktivitas kerja. Berhubung lay out terbuka, maka tidak ada ruangan yang memisahkan antara staff yang satu dengan staff lainnya, sehingga warna ruangan lay out terbuka terdiri dari satu warna yang bisa saja bukan warna kesukaan staff. Maka dari itu, staff/para pegawai harus menerima apapun warna cat dinding ruangan mereka bekerja.
Suara pada lay out terbuka, Suara yang gaduh akan mengganggu pekerjaan, terutama pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi (kerja otak) tinggi, seperti pembuatan konsep-konsep, perencanaan, penghitungan dan lain sebagainya. Bila situasi gaduh ini dibiarkan terus-menerus akan dapat mengakibatkan kekacauan dan kesalahan pada hasil kerja pegawai yang bersangkutan. Oleh karena itu suasana ini perlu dikendalikan. Pada lay out terbuka hal ini bisa saja menjadi hal yang serius diakibatkan jenis lay out ini sangat rawan terhadap suara-suara kebisingan dikarenakan antar para pegawai tidak ada sekat yang memisahkan serta tingkat gosip (ngobrol-ngobrol) dengan pegawai lainnya akan sangat tinggi dan dapat mengganggu konsentrasi pegawai yang lainnya.
Udara pada lay out terbuka, aliran udara yang segar (banyak mengandung oksigen) secara terus menerus di kantor akan dapat mengurangi keletihan dan menimbulkan kesegaran bagi pegawai. Udara adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kondisi fisik (daya tahan) orang bekerja. Udara juga merupakan salah satu fakor yang dapat menciptakan kenyamanan (ergonomic) suatu kantor. Mills, Standingford dan Appley menyatakan bahwa “udara adalah suatu syarat untuk berkonsentrasi”. Udara yang terlalu panas, dingin, pengab akan mengganggu peredaran darah, yang akhirnya mengganggu konsentrasi dan kerja otak manusia. Maka dari itu, udara pada lay out terbuka sangat baik. Karena sirkulasi udara berjalan dengan baik.

Selasa, 27 Januari 2009

TUGAS BAB 9

Tugas
BAB 9
Pertanyaan :

• Berikan contoh real cara mengukur salah satu pegawaian di kantor, seperti sekretaris atau receptionist.
• Berikan contoh dan metode yang anda gunakan dalam menyederhanakan arus kerja!
Dapatkah anda member alasan pola pembagian kerja mana yang paling banyak dipakai di perusahaan?kenapa?
• Ada berapa cara untuk mengatasi fluktuasi pegawaian?terangkan dan beri contoh lainnya!
• Diskusikan dengan teman anda usaha-usaha apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan produktifitas kerja pegawai kantor di kampus anda?

Jawaban:

• Contoh real cara mengukur pegawaian sekretaris atau receptionist di kantor:
Tentukan terlebih dahulu standar yang nantinya akan dijadikan sebagai acuan oleh pegawai tersebut untuk menunjukkan produktivitasnya
Untuk seorang receptionist, pengukuran pekerjaannya dapat dilihat dari berapa orang yang dapat ia layani dalam satu waktu (menggunakan teknik pengukuran catatan waktu). Selain itu pengukuran juga dapat dilihat dari berapa lama waktu yang ia perlukan untuk melayani seseorang (dengan menggunakan teknik pencatatan historis).
Untuk seorang sekretaris , salah satu cara pengukuran pekerjaannya dapat dilakukan dengan menghitung seberapa handal ia mengatur jadwal kegiatan bos’nya, berapa lama waktu yang ia perlukan untuk menyelesaikan pengetikan surat yang diperintahkan oleh bos’nya, berapa nilai akurasi dalam pengetikannya, seberapa cepat dan akurat ia menagkap hasil rapat dan mencatatnya dalam notulen rapat, dll.

• Contoh dan metode yang digunakan dalam menyederhanakan arus kerja.
Apabila rendahnya kinerja pegawai disebabkan oleh arus kerja yang berbelit-belit maka harus digunakan penyederhanaan arus kerja. Contoh kasusnya:
Prosedur pembayaran uang kuliah di POLBAN yang awalya berbelit-belit hingga seringkali terjadi antrian yang panjang pada saat mahasiswa melakukan pembayaran uang kuliah. Untuk mengatasi hal tersebut dilalkukan penyederhanaan arus kerja dengan langkah-langkah sebagai berikut:
Ambil data dengan cara melakukan survey secara menyeluruh tentang system kerja yang ada. Siapa saja yang terlibat?, arus kerjanya seperti apa? Dll
Analisa data dan fakta yang ada, bila mungkin gunakan symbol-simbol yang ada seperti flow chart, Organisation and method, data flow diagram dll sehingga diketahui akar permasalahnnya.
Tentukan metode yang tepat, alat dan mesin yang akan digunakan, prosedur baru yang akan digunakan, dll
Sosialisasikan cara baru tersebut dan terapkan secara perlahan lahan, tahap demi tahap sehingga dapat diterima oleh semua pihak.
Lakukan evaluasi terhadap metode baru tersebut dan sesuaikan dengan kondisi yang ada tanpa merubah tujuan penyederhanaan arus kerja.
Pada kasus pembayaran uang kuliah di polban, setelah dilakukan survey dan analisa data, ternyata diketahui bahwa kurang efisiennya prosedur pembayaran uang kuliah sehingga menyebabkan antrian penjang tersebut disebabkan oleh terbatasnya jumlah anggota pelayanan pembayaran uang kuliah tersebut, kebayankan mahasiswa membayar di waktu yang bersamaan, kurangnya kecepatan pelayan dalam melayani pembayaran uang kuliah, dll. Dari masalah-masalah yang telah dianalisa tersebut, maka ditentukanlah satu metode baru dalam pelayanan pembayaran uang kuliah mahasiswa POLBAN yaitu dengan mewajibkan seluruh mahasiswa melakukan pembayaran melalui bank-bank yang sebelumnya telah bekerja sama dengan pihak POLBAN untuk menangani pembayaran uang kuliah mahasiswa. Jadi mahasiswa dapat membayar uang kuliahnya dari cabang-cabang bank yang bersangkutan sehingga lebih efisien dan tidak menyebabkan antrian panjang. Setelah pembayaran di bank, mahasiswa diwajibkan melakukan konfirmasi pembayaran pada bagian akademik kemahasiswaan di kampus untuk pencatatan di kampus. Hal ini kemudian diterapkan secara perlahan dan bertahap agar dapat diterima oleh semua pihak dan setelah diterapkan, kemudian dievaluasi apakah perubahan metode yang dilakukan tersebut berdampak baik atau tidak.

• Menurut saya, pola pembagian kerja yang banyak dipakai di perusahaan adalah pola gabungan dimana sebagian pekerjaan dibagi pada sebagian orang dengan menggunakan pola paralael dan sebagian lagi dengan pola serial. Hal ini dikarenakan, dalam sebuah perusahaan selalu saja ada kebijakan executive (istimewa) dimana suatu hal harus langsung ditangani oleh orang yang bersangkutan (contohnya istri bos yang ingin bertemu dengan suaminya biasanya menolak jika harus berbelit-belit atau menghadap bawahan-bawahannya dulu. Biasaya, dari receptionist langsung diantarkan menemui orang yang dituju meskipun belum ada janji sebelumnya). Sedangkan untuk kasus lain, biasanya tamu harus membuat janji terlebih dahulu sebelum menemui seseorang di perusahaan (pimpinan) selain itu biasanya tamu juga harus menemui staff-staff lain terlebih dahulu sebelum benar-benar ditangani oleh pimpinannya.


• Cara-cara untuk mengatasi fluktuasi pegawaian antara lain adalah:
Mobile units (unit bergerak)
Peusahaan membentuk dan mendata orang-orang yang sewaktu-waktu dapat membantu unit lainnya apabila unit tersebut dalam periode tertentu memiliki beban kerja yang berat. Contoh, apabila perkerjaan di bagian pelayanan suatu perusahaan sedang padat dan memerlukan bantuan, maka mobile unit tersebut diberlakukan untuk membantu pekerjaan yang padat tersebut.
Sentralisasi kegiatan kantor
Kegiatan kantor disentralisasi dengan cara adanya unit pengetikan, penggandaan, filing, dll. Sentralisasi ini akan menciptakan speliasasi pegawaian yang efeknya akan menciptakan kecakapan dan kecepatan pegawai dalam bekerja. Dengan demikian sentralisasi kegiatan kentor dapat melenyapkan fluktuasi beben kerja. Contoh: dibuati unit khusus pengetikan dalam suatu kantor sehingga semua pekerjaan pengetikan dilimpahkan pada unit ini. Secara tidak langsung hal ini menimbulkan kecakapan dan kecepatan pegawai unit ini dalam pangetikan.
Cycling (penebaran menurut waktu)
Pegawaian kantor disebar menurut waktu baik jam maupau hari. Sebagai contoh: konsumen yang berdomisili di daerah A diberi kesempatan pembayaran dari tanggal 1-5. Sedangkan konsumen yang berdomisili di wilayah B diberi kesempatan melakukan pembayaran dari tanggal 6-10. Begitu seterusnya sampai penanggalan selama satu bulan.
Back Log
Sistim ini membagi pegawaian dalam criteria: urgent(penting), segera, dan biasa. Sebagai alat bantu dibuat daftar pegawaian yang harus diselesaikan lengkap dengan kriterianya pada sebuah papan tulis atau kertas. Pegawaian yang urgent merupakan prioritas utama untuk diselesaikan, berikutnya pegawaian yang bersifat segera dan biasa. Demikian seterusnya sehingga puncak-puncak pegawaian yang penting dapat ditangani lebih awal.
Lembur
Lembur adalah meminta pegawai untuk mengerjakan pegawaian diluar jam normal. Cara ini tidak terlalu memuaskan untuk mengatasi fluktuasi beban kerja. Hal ini disebabkan akan meningkatnya kelelahan pegawai juga akan menambah biaya perusahaan untuk membayar lembur pegawai.
Partimer
Partimer adalah menambah jumlah karyawan dengan cara menyewa tenaga kerja baru untuk satu waktu atau pekerjaan tertentu. Cara ini cukup flexible, tetapi menambah biaya perusahaan untuk membayar tenaga kerja yang didatangkan dari luar perusahaan.
Scheduling
Menjadwal kegiatan pegawaian tentang penentuan waktu urutan pegawaian, kapan dimulai dan kapan berakhir.

• Usaha-usaha yang perlu dilakukan untuk meningkatkan produktifitas kerja pegawai kantor di kampus POLBAN antara lain adalah:
Pegawai kantor di POLBAN sebaiknya diberikan dukungan dari direktur (pimpinan puncak). Dukungan ini bisa berupa dukungan moril (peninjauan ke lokasi pekerjaan kantor) ataupun dukungan materil seperti pemberian bonus-bonus.
Pekerja di kantor sebaiknya diberikan kesempatan dan kontribusinya untuk menyumbangkan ide-idenya dalam rangka meningkatkan produktivitas pekerjaan kantor di POLBAN.
Pekerja kantor sebiaknya diberikan penghargaan atas kinerjanya seperti pemberian insentive, maupun promosi naik jabatan yang cepat.
Diberlakukan komunikasi terbuka antara pegawai dengan pimpinan agar pegawai kantor dapat menyalurkan aspirasinya dalam peningkatan produktifitas pekerjaan kantor.

Selasa, 02 Desember 2008

KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3)

KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3)
Pada dasarnya, tujuan K3, antara lain sebagai alat untuk mencapai derajat kesehatan pekerja yang setinggi-tingginya dan sebagai upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit dan kecelakaan-kecelakaan akibat kerja.
Tujuan lainnya adalah sebagai alat untuk mempertinggi produktivitas pekerja.
Gangguan-gangguan pada kesehatan dan daya kerja akibat berbagai faktor dalam pekerjaan bisa di hindari. Dengan syarat buruh dan pihak pengelola perusahaan melakukan tindakan antisipasi terhadap resiko kecelakaan kerja. Perundangan tidak akan ada faedahnya, apalagi pemimpin perusahaan atau industri tidak melaksanakan ketetapan-ketetapan perundangan itu.
Untuk mencegah gangguan kesehatan dan daya kerja, ada beberapa usaha yang dapat dilakukan agar para buruh tetap produktif dan mendapatkan jaminan perlindungan keselamatan kerja, yaitu :
• pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja
• pemeriksaan kesehatan berkala, yaitu untuk evaluasi dan pendidikan tentang kesehatan dan keselamatan kepada para buruh.
• penyuluhan sebelum bekerja agar mereka mengetahui dan mentaati peraturan dan lebih berhati-hati. K3 bukan tanggung jawab pemerintah dan pengusaha saja, tapi kewajiban bersama antar pemerintah, pengusaha, pekerja dan masyarakat.
Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.
Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan telah mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan kerja, agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat dan lingkungan disekitarnya.

MASALAH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
Kinerja (performen) setiap petugas kesehatan dan non kesehatan merupakan resultante dari tiga komponen kesehatan kerja yaitu kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja yang dapat merupakan beban tambahan pada pekerja. Bila ketiga komponen tersebut serasi maka bisa dicapai suatu derajat kesehatan kerja yang optimal dan peningkatan produktivitas. Sebaliknya bila terdapat ketidak serasian dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja berupa penyakit ataupun kecelakaan akibat kerja yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja.
1. Kapasitas Kerja
Status kesehatan masyarakat pekerja di Indonesia pada umumnya belum memuaskan. Dari beberapa hasil penelitian didapat gambaran bahwa 30�40% masyarakat pekerja kurang kalori protein, 30% menderita anemia gizi dan 35% kekurangan zat besi tanpa anemia. Kondisi kesehatan seperti ini tidak memungkinkan bagi para pekerja untuk bekerja dengan produktivitas yang optimal. Hal ini diperberat lagi dengan kenyataan bahwa angkatan kerja yang ada sebagian besar masih di isi oleh petugas kesehatan dan non kesehatan yang mempunyai banyak keterbatasan, sehingga untuk dalam melakukan tugasnya mungkin sering mendapat kendala terutama menyangkut masalah PAHK dan kecelakaan kerja.
2. Beban Kerja
Sebagai pemberi jasa pelayanan kesehatan maupun yang bersifat teknis beroperasi 8 - 24 jam sehari, dengan demikian kegiatan pelayanan kesehatan pada laboratorium menuntut adanya pola kerja bergilirdan tugas/jaga malam. Pola kerja yang berubah-ubah dapat menyebabkan kelelahan yang meningkat, akibat terjadinya perubahan pada bioritmik (irama tubuh). Faktor lain yang turut memperberat beban kerja antara lain tingkat gaji dan jaminan sosial bagi pekerja yang masih relatif rendah, yang berdampak pekerja terpaksa melakukan kerja tambahan secara berlebihan. Beban psikis ini dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan stres.
3. Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja bila tidak memenuhi persyaratan dapat mempengaruhi kesehatan kerja dapat menimbulkan Kecelakaan Kerja (Occupational Accident), Penyakit Akibat Kerja dan Penyakit Akibat Hubungan Kerja (Occupational Disease & Work Related Diseases).